cream pemutih wajah tanpa efek

Selasa, 19 Mei 2015

Gurihnya Kerupuk Kulit Sapi Produk Banjaran Wetan

Gurihnya Kerupuk Kulit Sapi Produk Banjaran Wetan


Ilustrasi (web)BANDUNG (bisnis-jabar.com) : Kerupuk merupakan makan pelengkap menu makan sehari-hari, bahkan bagi sebagian orang ketika menyantap hidangan, rasanya belum lengkap kalau tanpa kerupuk.

Selain kerupuk untuk pelengkap menu makanan, ada juga kerupuk yang dijadikan cemilan yang lezat, dan bisa dinikmati kapan saja. Seperti kerupuk kulit sapi (rambak) yang diproduksi puluhan pengusaha olahan kulit sapi di daerah Banjaran Wetan Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung.

Dadang Rahmat salah satu pengusaha kerupuk yang terbuat dari kulit sapi di Banjaran Wetan mengungkapkan dirinya beserta pengusaha lainnya telah memulai usaha sejak 2004 lalu, dengan mendatangkan bahan baku (kulit sapi) dari Garut dan Cianjur, dirinya mampu mengolah kulit sapi menjadi kerupuk mentah, dan dalam sehari kerupuk mentah yang Ia produksi rata-rata mencapai 3 kwintal.

“Hasil produksi dari para pelaku usaha kerupuk olahan kulit sapi diijual ke luar daerah namun masih di Jawa Barat, seperti Kota Bandung, Bogor dan Tasik,” katanya, Minggu (30/6).

Kerupuk hasil olahan dari sentra kerupuk kulit sapi dari Kampung Cihamerang, Desa Banjaran Wetan ini dijual mulai dari harga Rp.50.000-Rp54.000 per kg, tergantung kulitas kerupuk. Karena kerupuk yang diproduksi terbagi menjadi beberapa pilihan kualitas.

“Penjualan kerupuk ke luar daerah biasanya melalui jasa agen-agen makanan yang rutin mengambil stok barang ke lokasi produksi, namun kalau pun berminat membeli langsung, silahkan datang ke sentra produksi di Banjaran Wetan,” tutur Dadang.

Rasa kerupuk kulit sapi menurut Dadang tentu berbeda dengan jenis kerupuk lainnya, selain karena bahannya khusus dari kulit sapi asli, pengolahan kerupuk kulit pun berbeda. Meski Dadang enggan menyebutkan bagaimana proses pengolahannya, namun Dadang mengungkapkan  kerupuk kulit lebih cocok disandingkan dengan jajanan yang hangat dan pedas, seperti mie ayam atau baso.

Dari hasil usaha olahan kerupuk kulit sapi, omzet yang diperoleh Dadang dalam 1 tahun bisa mencapai Rp100 juta, dengan usaha kerasnya yang dibantu istri tercinta Dadang memiliki cita-cita untuk terus memperbanyak produksi kerupuk dan mencari jaringan pemasaran di luar Jabar. (k3/ajz)

Nama UMKM ;

Kerupuk Kulit Sapi

Kp. Cihamerang Rt.04/12

Desa Banjaran Wetan Kecamatan Banjaran

08122109507

PEMBUATAN RAMBAK KULIT IKAN

PEMBUATAN RAMBAK KULIT IKAN


Kulit ikan dapat diperoleh dengan mudah dengan harga yang rendah pada perusahaan-perusahaan pengolahan ikan yang hanya memanfaatkan bagian dagingnya saja.

I. Pengenalan Kulit Ikan

Rambak kulit ikan bermacam-macam jenis dan kualitasnya tergantung pada jenis ikan dan cara pengolahannya. Hal-hal yang yang berkaitan dengan kulit ikan akan dibahas secara lebih jelas dalam bab ini.


1. Sumber Kulit Ikan

Kulit ikan dapat diperoleh dengan mudah dengan harga yang rendah pada perusahaan-perusahaan pengolahan ikan yang hanya memanfaatkan bagian dagingnya saja. Adapun beberpa perusahaan penghasil kulit ikan tersebut antara lain sebagai berikut :
a. Exporter / produsen ikan beku
b. Perusahaan kerupuk ikan
c. Perusahaan bakso ikan
d. Perusahaan tepung ikan
e. Perusahaan abon dan kecap ikan

2. Jenis Kulit Ikan

sebenarnya, kulit ikan hampir semua jenis ikan dapat dimanfaatkan dalam pembuatan kerupuk kulit ikan. Namun demikian, mengingat kulit ikan yang dimanfaatkan di sini merupakan limbah dari beberapa perusahaan di atas, yang umumnya hanya mengolah ikan yang dianggap bernilai ekonomi saja, maka dengan demikian jenis kulit ikannya juga terbatas yang antara lain meliputi ikan tenggiri, tuna, kakap, kakap merah, pari, hiu, lele, bandeng dan belut

3.Kualitas kulit Ikan

Adapun persyaratan kulit ikan yang harus dipenuhi agar dapat diperoleh kerupuk ikan yang berkualitas yang baik antara lain adalah :
a. Masak segar (belum busuk)
b. Bersifat liat / tidak mudah robek
c. Memiliki ketebalan minimal 0,5 mm (setelah sisik dibersihkan),dan
d. Kuat dan tidak mudah hancur
Kulit- kulit yang memenuhi persyaratan demikian,umumnya berasal dari ikan-ikan yang berukuran besar,baik ikan darat (air tawar) maupun ikan laut

II. PEMBUATAN RAMBAK KULIT IKAN

Proses pembuatan kerupuk kulit ikan dilakukan dengan menggunakan beberapa cara kerja yang sudah lebih baik jika dibandingkan dengan metode tradisional yang dulu banyak digunakan. Di samping itu, digunakan pula mesin atau peralatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Sehingga dengan demikian diharapkan dapat dihasilkan produk yang berkualitas.

A. Kebutuhan Alat

1. Timbangan
Agar kualitas hasil produksi stabil, maka setiap pemakaian bahan harus selalu diukur / ditimbang terlebih dahulu.Untuk mengetahui berat bahan, diperlukan timbangan, baik berapa timbangan kue ataupun timbangan duduk.

2. Gelas Ukur
Untuk mengatur volume air yang digunakan dalam proses pembuatan kerupuk kulit ikan, diperlukan adanya takaran, dapat berupa gelas ukur baik yang terbuat dari gelas (kaca) maupun plastik.

3. Gunting
Mengingat kondisi ikan kering,tipis dan liat maka untuk memotong atau memisahkan beberapa bagian tertentu yang berupa duri-duri dan sirip diperlukan adanya gunting. Pemotongan dengan menggunakan pisau dan tekanan sangat sulit untuk dilakukan.

4. Bak Plastik
Pada proses pembuatan kerupuk kulit ikan, bak plastik diperlukan dalam beberapa kegiatan, antara lain sebagai wadah perendaman, sebagai wadah pencucian, sebagai wadah bahan dan sebagai wadah produk.

5.Baskom Plastik
Dalam proses pembuatan kerupuk kulit ikan, baskom plastic digunakan pada saat perendaman bahan dalam larutan bumbu, sebelum diproses lebih lanjut.

6. Penghancur
Untuk menghancurkan atau menghaluskan bumbu dapat,dapat digunakan lumping – alu, cobek – ulek ataupun blender, tergantung pada jumlah bumbunya.

7. Alat Penjemur
Untuk menjemur kulit ikan dapat digunakan nyiru, widik, ataupun tampah (terbuat dari anyaman bambu). Namun apabila diinginkan pengering yang lebih cepat dan hyglenis dapat digunakan perangkat penjemuran yang terbuat dari logam aluminium. Alat penjemuran tersebut dilengkapi dengan rak penyangga yang terbuat dari bambu utuh yang ditancapkan sebagian ke dalam tanah.

8. Kompor
Sebagai bahan panas dalam proses pemasakan kulit ikan menjadi kerupuk ikan,diperlukan adanya kompor, baik kompor minyak tanah, kompor gas ataupun kompor listrik

9. Wajan,Serok,Solil
Ketiga alat ini, diperlukan dalam proses penggorengan kulit ikan (rambak).

10. Rege / Kalo
Dalam kegiatan penirisan, baik setelah proses pencucian, perendaman maupun penggorangan diperlukan adanya rege/kalo.

11. Plastic Sealer
Untuk dapat menutup plastic pengemas kerupuk kulit ikan dengan rapi dan rapat,diperlukan adanya plastic sealer.

B. Kebutuhan Bahan

Dalam proses pembuatan kerupuk kulit ikan (rambak),diperlukan beberapa macam bahan sebagai berikut:
1. Kulit Ikan
Kulit ikan yang dapat digunakan sebagai bahan dalam pembuatan kerupuk kulit ikan harus dalam kondisi yang memenuhi syarat baik dari segi kesegarannya, ketebalannya maupun keuletannya. Adapun kulit ikan mentah tersebut dapat diperoleh dalam basah maupun kering.

2. Bahan Pengeras / Firming Agent
Agar kerupuk kulit ikan yang dihasilkan tidak menjadi lembek, beberapa saat sebelum proses penggorengan dilakukan,kulit ikan mentah tersebut harus dibuat kaku (keras) terlebih dahulu dengan cara direndam dalam air kapur sirih. Adapun air kapur sirih tersebut dapat dibuat dengan cara melarutkan batu gamping secukupnya

3. Bumbu-bumbu
Agar kerupuk rambak yang dihasilkan memliki cita rasa yang lezat, maka pada proses pembuatannya perlu ditambahkan beberapa macam bumbu sebagai berikut:
a. Garam : 25 gram
b. Bawang putih : 5 siung
c. Ketumbar : 2 sendok the
d. Asam : 5 gram
e. Air : 250 ml

4. Minyak Goreng
Jenis minyak goreng yang digunakan untuk mengoreng kerupuk kulit ikan, menentukan daya tahan (daya simpan) produk. Oleh karena itu disarankan untuk menggunakan minyak goreng yang dihasilkan melalui proses pemurnian (umumnya dibuat oleh pabrik). Minyak goreng atau minyak kelapa yang dibuat secara tradisional, memiliki kecenderung untuk lebih cepat menjadi tengki. Hal tersebut disebabkan karena, minyak goreng tradisional dibuat tanpa melalui proses pemurnian terlebih dahulu. Untuk menghasilkan kerupuk kulit ikan yang baik,dalam proses penggorengan sebaiknya digunakan minyak goreng dalam jumlah yang cukup banayak, sehingga semuanya dapat terendam dalam minyak walaupun sebenarnya minyak yang terpakai hanya relatif sedikit.

5. Bahan Pengemas
Produk-produk olahan kering yang dikemas, akan dapat meningkatkan penampilan serta daya simpannya.Hal ini disebabkan, karena dengan pengemasan maka produk akan menjadi lebih hygienis, terhindar dari bahan-bahan pencemaran, serta tidak mudah menjadi lembek kembali.

C. Proses Produksi

Secara garis besar,proses pengolahan kulit ikan mentah menjadi kerupuk kulit ikan (rambak),dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pengolahan.

1. Tahap Persiapan

Tahap persiapan meliputi dua jenis kegiatan, yaitu pembuatan kapur sirih dan persiapan bahan baku.

a.Tahap Pembuatan Kapur Sirih

Pada prinsipnya, kapur sirih merupakan batu gamping atau kapur tohor ynag direndam dalam air secara terus – menerus selama + 7 hari, hingga menjadi bubur kapur yang lembut.
Mengingat bahwa wadah yang tekah dipakai untuk proses perendaman tersebut akan menjadi rusak ( tidak apat dipakai lagi),setelah proses perendaman selesai, disarankan untuk menggunakan wadah yang memang sudah tidak pakai lagi.

Adapun urutan langka kerja proses pembuatan kapur sirih, dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Siapkan wadah yang tidak dipakai lagi namun tidak bocor
2. Masukkan batu gamping sebanayak + 1 kg ke dalam tempat tersebut
3. Tuangkan air bersih ke dalam tempat tersebut hingga sekuruh batu gamping terendam dengan baik (melampaui batas terendam). Sesaat kemudian, akan tampak adanya gelembung-gelembung seperti halnya pada air mendidih dan batu gamping akan menjadi terpecah-pecah. Pada peritiwa itu ada kemungkinan volume air akan menyusut, apabila terjadi hal demikian tambahkan air bersih lagi hingg melampaui batas terendam. Penambahan air dilakukan setiap hari volume air menyusut (gamping tampak tidak terendam) dan secara terus-menerus hingga gelembung-gelembung tidak tampak atau muncul lagi. Tidak munculnya gelembung menunjukkan bahwa proses pencampuran batu gamping dan air telah selesai.
4. Simpan gamping hasil perendaman tersebut, selama 24 jam. Pada hari berikutnya, tambahkan lagi air hingga melampaui batas terendam, apabila hancuran batu gamping tersebut nampak menyembulkan atas permukaan air.
5. Perendaman dilakukan selama + 7 hari, dengan setiap kali dilakukan penambahan air apabila tampak air menyusut.
6. Pada hari ke 8, biasanya rendamab batu gamping tersebut telah jadi kapur sirih, yang ditandai dengan perubahan tekstur, yaitu dari batu yang keras menjadi bubur kapur yang lembut.

Agar kondisi bubur kapur sirih tersebut tetap lembut, sebaiknya disimpan dalam keadaan terendam air. Hal ini perlu dilakukan karena kapur sirih yang sudah terlanjur kering dan mengeras tidak dapat digunakan lagi.

b.Tahap Persiapan Bahan Baku

Tahap persiapan bahan baku terdiri atas kegiatan pemilihan dan pemisahan (sortasi) dan kegiatan pengerasan kulit ikan (perendaman dalam larutan kapur sirih). Adapun beberapa faktor yang perlu diperhatikan dan urutan langka kerja yang dilakukan dalam proses persiapan bahan baku, secara rinci adalah sebagai berikut.

1.Kondisi Kulit Ikan
Kulit ikan yang diperoleh dari beberapa perusahaan, ada yang masih dalam kondisi basah, namun ada pula yang sudah diawetkan sementara yaitu dengan dikeringkan.
Kulit ikan dalam kondisi basah dapat langsung disortasi. Namun, kulit ikan yang kering, harus direndam terlebih dahulu beberapa saat hingga menjadi basah menyerupai kondisi kulit ikan yang basah, kemudian baru dapat diproses lanjut

2. Sortasi dan Pembersihan
Kegiatan sortasi dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan antara kulit ikan yang memenuhi persyaratan dengan kulit ikan yang tidak memenuhi persyaratan (berkualitas jelek). Di samping itu, juga untuk memisahkan antara kulit ikan dengan bagian-bagian lain yang terikut (sirip,ekor,isi dan perut)

3.Pencucian I dan Penirisan
kulit-kulit ikan yang lolos sortasi (terpilih),dicuci dengan air hingga benar-benar bersih dan kemudian ditiriskan.

4.Sanitasi
Khusus untuk kulit ikan yang tercampur dengan bagian lain yang kotor, tidak cukup dilakukan pencucian saja, namun perlu disanitasi hingga bersih dari cemaran mikroorganisme. Adapun sanitasi tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Buat larutan perendam berupa larutan kaporit 0,25% (2,5 g kaporit dalam tiap 1 liter air bersih). Aduk-aduk larutan tersebut, hingga seluruh kaporit larut tercampur rata
b. Rendam kulit yang akan disanitasi ke dalam larutan kaporit selama + 1 menit (tipa 1 liter larutan kaporit 0,25%,dapat digunakan untuk merendam 0,5 kg kulit ikan basah)

5. Pencucian II dan Penirisan
Setelah sanitasi selesai dilakukan, kulit ikan tersebut dicuci kembali beberapa kali hingga bau klor dari larutan kaporit yang menempel pada kulit dapat benar-benar hilang. Selanjutnya, kulit ditiriskan.

6. Pengerasan
Pengerasan kulit ikan dilakukan dengan tujuan agar kerupuk kulit ikan yang dihasilkan nantinya memiliki tekstur yang kaku (kering renyah) setelah digoreng dan tidak mudah menjadi lembek ( jawa : mlempem) kembali. Pengerasan dilakukan dengan merendam kulit ikan dalam larutan kapur sirih jernih selama 1 -2 jam.

Adapun caranya adalah sebagai berikut:
a.Siapkan air bersih sebanyak 10 liter. Campurkan kapur sirih sebanyak 10 sendok makan penuh (jawa : munjung) ke dalam air tersebut dan aduk-aduk hingga seluruhnya larut dalam air dan menjadi larutan yang berwarna putih seperti susu.
b. Biarkan larutan tersebut beberapa saat hingga kapur mengendap kembali pada bagian dasar wadah. Selanjutnya, pisahkan secara hati-hati cairan jernih yang berada pada bagian atas larutan tersebut.
c. Rendam kulit ikan ke dalam larutan kapur sirih jernih,selama 1 – 2 jam ( untuk merendam 5 kg kulit ikan basah, diperlukan 10 liter larutan air kapur sirih jernih).

7.Pencucian III dan Penirisan
Setelah proses perendaman dalam larutan kapur sirih selesai dilakukan, selanjutnya kulit ikan yang sudah menjadi kaku dicuci dan dibilas beberapa kali, hingga bau kapur yang menempel pada kulit tersebut benar-benar hilang. Kemudian kulit ikan tersebut ditiriskan.

8.Penjemuran
Setelah ditiriskan, kulit ikan tersebut diatur di atas widik atau lengser aluminium dan kemudian dijemur hingga kering.Pada saat penjemuran, setelah setengah kering, dilakukan pembalikan kulit ikan sehingga pengeringan dapat terjadi secara merata. Apabila tidak langsung diproses lanjut, sebaiknya kulit ikan yang sudah kering tersebut disimpan dalam keadaan dikemas dalam kantong plastic dan ditutup rapat.

2.Tahap Pengolahan

kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap proses ini merupakan kegiatan pokok dalam proses pembuatan kerupuk kulit ikan (rambak). Jenis kegiatan dalam tahap pengolahan kulit ikan menjadi kerupuk kulit ikan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.Pemotongan dan Pembersihan
Pemotongan kulit ikan dilakukan dengan tujuan untuk menyeragamkan bentuk dan ukuran kulit ikan kering tersebut. Pada saat pemotongan tersebut, sekaligus dapat dilakukan pemisahan bagian-bagian lain yang terikut misalnya, sirip, ekor, duri dan sebagainya. Pemotongan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan gunting yang tajam.

b. Penyiapan Larutan Bumbu
Agar kerupuk kulit ikan yang dihasilkanmemilki cita rasa yang lezat,maka perlu ditambahkan bumbu sesaat sebelum proses penggorengan dilakukan. Untuk 1 kg kulit ikan kering, diperlukan larutan bumbu yang terdiri atas bumbu sebagai berikut :
1.Bawang putih : 5 siung
2.Ketumbar : 2 sendok tea
3.Asam : 2 biji
4.Garam : 10 gram
5.Air : 200 ml
6.Penyedap rasa : 2 sendok tea jika mau

Adapun cara membuat larutan bumbu tersebut adalah sebagai berikut :

1.Bawang putih dikupas, kemudian dihancurkan bersama-sama dengan ketumbar, asam, penyedap rasa, dan garam hingga benar-benar halus.
2.Tambahkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk hingga menjadi larutan bumbu yang siap digunakan.

c. Perendaman dalam Larutan Bumbu
Perendaman kulit ikan dalam larutan bumbu,dapat dilakukan selama 5 – 10 menit (hingga bumbu merata), kemudian diangkat dan ditiriskan.

d. Penjemuran
Kulit ikan yang sudah dibumbui dan ditiriskan, diatur rapi di atas widik ataupun lengser alumunium dan kemudian dijemur hingga benar-benar kering (setelah 1 – 2 jam sekali, dibalik, hingga pengeringan dapat terjadi secara merata). Setelah kering,kulit ikan tersebut dapat langsung digoreng,atau apabila akan disimpan terlebih dahulu harus dikemas dalam kantong plastik dan ditutup rapat.

e. Penggorengan
sebelum penggorengan kulit ikan dilakukan, disiapkan terlebih dahulu perangkat penggorengan.Penggorengan dilakukan dalam kondisi minyak yang banyak dan panas. Setelah kulit ikan tersebut matang dan menjadi kerupuk kulit ikan (rambak), kemudian diangkat dari penggorengan dan ditiriskan. Setelah dingin, dikemas dalam stoples plastik atau kantong plastik dan ditutup rapat.

D. Pengemasan

Kemasan produk merupakan wadah ataupun pembungkus produk. Tujuannya adalah sebagai berikut :

1. Melindungi Produk
Dengan dikemas, produk akan terlindung dari berbagai macam bahan pencemar misalnya debu,cairan/uap air, mikroorganisme dan sebagainya, yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas produk.

2. Mengawetkan Produk
Produk kerupuk kulit ikan yang dikemas dan ditutup rapat, tidak mudah menjadi mlempem. Hal ini dilakukan supaya dapat memperpanjang daya simpan produk.

3. Mengamankan dan Mempermudah Distridusi
Produk yang dikemas akan terhindar dari gesekan (vibrasi) dan tekanan fisik (benturan) selama proses pendistribusiannya,sehingga dapat aman sampai ke tujuan.Dengan demikian memungkinkan untuk memperluas jangkauan wilayah pemasarannya.

4. Meningkatkan Mutu Trampil
Pada dasarnya konsumen akan lebih tertarik pada produk-produk yang dikemas rapi dengan penampilan yang menawan.Kemasan yang bersih dan rapi akan menimbulkan citra atau identik dengan produk yang berkualitas.

Diolah dari berbagai sumber

Bisnis Inovatif, Olah Kulit Pisang Jadi Kerupuk

Bisnis Inovatif, Olah Kulit Pisang Jadi Kerupuk





   
VIVAnews - Kulit pisang selama ini hanya dibuang di tempat sampah atau untuk pakan sapi maupun kambing. Bahkan, jika dibuang sembarangan dapat menyebabkan orang terpeleset.

Kulit pisang yang tidak punya nilai ekonomis itu, ternyata di tangan Lasio (58), warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diolah kembali menjadi kerupuk.

Meski hanya dari kulit pisang, kerupuk kulit pisang hasil olahan Lasio ini terbilang lezat, gurih, dan sedikit sepat di lidah.

Lasio yang juga sebagai ketua Koperasi Agro Murasa Boga Bantul (Amboy), Sidomulyo, Bambanglipuro ini juga pernah menciptakan keripik bonggol pisang dengan berbagai varian rasa.

Meski baru ditemukan sekitar April lalu, bahkan belum memasarkannya dalam jumlah banyak, ia tetap memperbolehkan masyarakat mengintip resep pembuatan kerupuk kulit pisang miliknya. Ternyata tidak sulit, hampir sama dengan pembuatan kerupuk lainnya.

"Pertama, kulit pisang yang masih hijau mentah dicuci terlebih dahulu, kemudian direbus sekitar setengah jam. Setelah ditiriskan, kulit tersebut kemudian dipotong dan diblender untuk diperas airnya," katanya kepada VIVAnews, Selasa 14 Mei 2013.

Ampas kulit yang sudah halus, kemudian dicampur dengan komposisi adonan, yakni tepung tapioka 60 persen berbanding kulit pisang 40 persen, serta bumbu dua macam yakni bawang putih dan garam. Jika berminat, bisa ditambah campuran ebi, daun bawang, seledri, atau terasi.

"Adonan diulet dan dibungkus daun atau plastik seperti lontong untuk kemudian dimasukkan ke kulkas. Setelah itu, lontong kulit pisang tadi dikukus selama dua jam, untuk diiris tipis, dijemur kemudian digoreng," jelas Lasio.

Dalam pembuatan kerupuk kulit pisang, Lasio mengaku sempat menemui kendala seperti saat direbus hancur, karena seharusnya dikukus. Selain itu, sulit diiris karena tidak didinginkan dalam kulkas terlebih dahulu.

Menurut dia, sebaiknya kulit pisang yang digunakan masih mentah, karena kalau sudah matang akan lembek dan hitam. "Meski hanya kulit, kerupuk ini sudah diteliti kandungan gizinya oleh Universitas Gadjah Mada. Hasilnya positif, jadi tidak perlu diragukan," ujarnya.

Lasio mengaku belum memasarkan produknya, melainkan hanya menjual kepada para tetangga. Satu kilogram kerupuk mentah dibanderol Rp25 ribu atau Rp50 ribu untuk kerupuk yang sudah matang. Kerupuk yang masih mentah bisa tahan hingga enam bulan untuk disimpan.

"Nantinya, temuan kerupuk kulit pisang ini akan saya ikut sertakan dalam penilaian anugerah iptek kearifan lokal mewakili DIY pada Juni mendatang," tuturnya. (art)

Kamis, 14 Mei 2015

Presiden Jokowi kepada Investor Jepang

Ini Permintaan Presiden Jokowi kepada Investor Jepang



Suara.com - Presiden RI Joko Widodo meminta Jepang jangan sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga sebagai basis produksi yang strategis.

Presiden Jokowi dalam collective courtesy call dan forum bisnis dengan para pengusaha Jepang dan kepala lembaga pemerintahan negara itu di Hotel New Otani Tokyo, Selasa (24/3/2015) berharap agar Indonesia tidak hanya dijadikan pasar bagi Jepang.

"Saya minta agar Indonesia tidak jadi pasar, tetapi basis produksi, baik itu komponen otomotif, elektronik, mobil, maupun semua yang berorientasi ekspor," katanya.

Jika hal itu menjadi perhatian serius para pengusaha di Jepang yang ingin berinvestasi di Indonesia, Jokowi janji akan membantu dan menindaklanjuti persoalan di lapangan.

Pada kesempatan itu, Presiden RI juga berjanji akan menindaklanjuti keluhan yang disampaikan investor Jepang yang sudah berinvestasi di Indonesia maupun bagi mereka yang baru berencana menanamkan modalnya di Indonesia.

Ia mengakui masih ada berbagai hambatan investasi di Indonesia. Akan tetapi, pemerintahannya memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan perbaikan.

"Indonesia ingin produk-produk yang ada bisa diekspor. Akan tetapi, bukan sebagai barang mentah, melainkan barang jadi atau barang setengah jadi," katanya.

Ia yakin Jepang memiliki pengalaman dan teknologi dalam hal itu sehingga diharapkan bisa membantu Indonesia untuk mewujudkannya.

Pada pertemuan itu Jokowi didampingi Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menlu Retno Marsudi, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Seskab Andi Widjajanto, Ketua BKPM Franky Sibarani, dan Ketua Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto.

Collective Courtesy Call itu dihadiri oleh asosiasi bisnis dan lembaga pemerintah Jepang, yakni Japinda, Duta Besar Jepang ke Indonesia, Keidanren, Kadin Jepang, Jetro, Friendship Exchange Council, dan chairman dari sejumlah perusahaan besar di Jepang.

Sejumlah pengusaha yang bergabung dalam pertemuan itu, di antaranya CEO Hitachi, Daihatsu Motor Corp, IHI Corp, Inpex, Itochu, J-Power, JX Nippon Oil and Energy, Marubeni, Nikkei Inc, Sumitomo Corp, Ajinomoto, Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ, Honda, JFE Steel, J-Trust, Mitsubishi Corp, NEC, Panasonic Corp, SMBC, dan Sojitz. (Antara)


Impor Beras


Beras Surplus, Kementan: Indonesia Tak Perlu Impor Beras



Suara.com - Pemerintah berencana membuka keran impor beras menjelang bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri 2015. Hal ini dilakukan untuk menjaga kebutuhan beras nasional.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Tanam dan Pangan Kementerian Pertanian Sembiring mengatakan opsi membuka impor beras dirasa belum perlu dilakukan karena stok beras nasional diperkirakan surplus hingga Juni 2015. Sementara realisasi tanam padi pada Oktober hingga Maret 2014 meningkat 109 persen dari tahun lalu.

Meski demikian, Kementerian Pertanian akan mengawasi pasar dan pembenahan di sistem distribusinya agar tidak terjadi permainan harga.

“Kalau cukup kenapa harus impor. Kan kasihan petani yang sudah kita dorong-dorong untuk produksi tetapi pemerintah impor. Beras mereka akhirnya tidak terserap. Kasihan semangat mereka menanam padi jadi terpatahkan,” kata Sembiring di Jakarta, Selasa (12/5/2015).

Kementan mengklaim stok beras nasional aman hingga menjelang lebaran. Tercatat, perkiraan stok beras nasional selama tiga bulan terakhir pada Maret yakni sekitar 6,8 juta ton, April 5,2 juta ton, dan Mei 3,6 juta ton.

“Saya yakin , kalau melihat hasilnya seperti ini, artinya kita belum perlu melakukan impor,” katanya.

Keyakinan tersebut diperkuat dengan adanya optimalisasi pembukaan lahan sawah baru yang diperkirakan akan menambah produksi 700 hektar, termasuk adanya perbaikan lahan irigasi. Sembiring mengakui bahwa selama ini produksi beras nasional karena sempitnya lahan dan sistem irigasi yang baik.

“Kita bukannya menolak tapi ini masukan saja, dari pada harus impor mendingan perbaiki sistem irigasi kita supaya petani bisa bekerja lebih maksimal. Kendala petani selama ini itu. Tapi dengan adanya pembukaan lahan sawah baru ini kita tidak perlu impor. Kasihan petani kita nanti semangatnya patah,” kata dia.

Berdasarkan luas tanam dan sejumlah upaya swasembada pangan, Kementan optimistis produksi gabah nasional akan sesuai dengan target yang sudah ditetapkan oleh pemerintah tahun ini sehingga tak perlu mengandalkan impor beras dari negara-negara lain

Senin, 11 Mei 2015

Kedudukan Desa Bukan Unit Terkecil, Tapi Aktor Tersendiri


Kedudukan Desa Bukan Unit Terkecil, Tapi Aktor Tersendiri


JAKARTA – Kebijakan Pemerintah terkait UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa dan pemetaan tata ruang desa masih belum dijalankan. Padahal masyarakat pedesaan juga akan menghadapi persaingan di pasar bebas atau Masyarakat Ekonomi Asean (MAE).
"Seharusnya dengan terbitnya UU tersebut, tingkat desentralisasi kawasan lokal pedesaan tingkat kabupaten, semakin meluas," ucap Kepala Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Ade Priyono dalam pembukaan diskusi 'Pemetaan Masalah Kawasan Pedesaaan', di Hotel Grand Cemara, Jakarta, Selasa (12/5/2015).

Menurutnya, dengan UU tersebut, menempatkan kedudukan desa bukan lagi sebagai unit pemerintahan terkecil dari negara, tetapi menjadi aktor tersendiri dalam percaturan lokal.

"Secara ekonomis, menjadikan desa sebagai pemilik kewenangan otonom untuk berinteraksi dengan aktor-aktor ekonomi supra-desa untuk pembangunan desa," tuturnya.

Ade menambahkan, dengan adanya UU tersebut bukan tidak mungkin akan timbul semacam unintended consequences dalam bentuk anomisasi desa. Ia menjelaskan, keberadaan desa menjadi amat politis dan sangat ekonomis.

Data menunjukkan, ada sekira 60 persen penduduk Indonesia yang masih bertempat tinggal di pemukiman pedesaan. Untuk itu, dengan UU desa ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan permukiman pedesaan, mengurangi kemiskinan, dan produktivitas tenaga kerja di desa.

"Kita harapkan pemetaan masalah kawasan perdesaan, dapat diselesaikan," tuturnya

Tips Memulai Bisnis Konveksi Rumahan

Tips Memulai Bisnis Konveksi Rumahan



Konveksian – Tips Memulai Bisnis Konveksi Rumahan – Untuk anda semua yang bingung mencari lapangan pekerjaan, tak ada salahnya untuk mencoba memanfaatkan peluang usaha yang satu ini, Bisnis Konveksi Pakaian yang mungkin akan sangat menguntungkan dan sfisien karena dilakukan dirumah sendiri.


Tips Memulai Bisnis Konveksi Rumahan

Berikut inilah Tips Memulai Bisnis Konveksi Rumahan
Hal pertama yang menjadi tips memulai bisnis konveksi rumahan tentu saja adalah membuat business plan. Buat business plan ini secara detil. Mulai dari cara mendapatkan modal awal, membeli perlengkapan konveksi, merekrut karyawan, membeli bahan baku, membuat desain, memproses, packing, menjual, analisis-untung rugi, analisis kompetitor, promosi, hingga solusi jika permasalahan datang – Tips Memulai Bisnis Konveksi Rumahan
Cari modal sebagai modal awal berbisnis konveksi rumahan ini. Modal bisa didapat dari diri sendiri atau pun kredit.
Jika modal sudah di tangan, perlengkapan konveksi seperti mesin jahit, mesin obras, gunting, meteran, benang, resleting segera dilengkapi sesuai kebutuhan. Lalu saatnya Anda merekrut karyawan.
Tips Memulai Bisnis Konveksi Rumahan, Ketika karyawan sudah direkrut, buatlah desain pakaian. Desain pakaian bisa dibuat dengan melihat tren pasar yang sedang terjadi atau pun membuat desain sendiri. Desain yang mengikuti tren pasar mungkin lebih aman karena produk Anda ada pasarnya. Akan tetapi di sini, harga jual harus bersaing dengan kompetitor. Jika desain menurut keinginan Anda sendiri, berarti Anda menciptakan pasar yang baru. Hal ini bagus akan tetapi pembeli masih belum jelas. Pertimbangkan dengan benar masalah ini. Jangan sampai modal Anda terjebak dalam barang yang menumpuk dan tidak laku atau Anda merugi karena menjualnya dengan harga murah dengan prinsip asal menjadi uang. Jangan lupa untuk menyesuaikan desain dengan target pasar/pembeli yang Anda bidik.
Jika desain sudah ok, saatnya Anda berbelanja bahan. Pastikan bahan ini sesuai dengan desain yang Anda buat dan target pasar yang Anda bidik.
Setelah bahan siap, potong sesuai desain dengan jumlah yang sudah dipertimbangkan. Kemudian proses jahit menjahit dilakukan oleh karyawan tetapi harus Anda pantau secara langsung agar tidak terjadi kesalahan desain.
Setelah semua siap, setrika, tidak lupa beri label baju dan ukuran untuk masing-masing pakaian yang sudah selesai, packing
pakaian yang sudah jadi dalam kemasan. Biasanya kemasan plastik transparan. Barang-barang pun siap dipasarkan.